Asalasah ~ Tulisan ini diambil dari blog dedehendrayana.com. Banyak teknik dapat digunakan oleh seorang pembicara agar bisa menarik perhatian audiens. Salah satu teknik yang bisa kita pelajari dan praktekkan serta diyakini bisa efektif dalam menarik perhatian audiens itu adalah teknik bercerita.
Siapapun akan memberikan perhatian pada cerita. Itulah kenapa buku cerita, dongeng, film, drama, bahkan sinetron bisa menarik perhatian karena kita semua menyukai cerita. Kita bisa duduk diam untuk membaca buku cerita berjam-jam atau duduk diam tanpa mau diganggu dan terganggu hanya karena sedang menyaksikan sinetron kesayangan kita sedang tayang di tv. Itu semua demi cerita yang bisa membawa kita berada dalam negeri khayalan masing-masing.
Tujuan dari bercerita adalah untuk memudahkan penyampaian pesan dan permintaan melakukan aksi. Seperti Peter Guber bilang, ”Orang tidak akan beraksi hanya karena melihat data, slide PowerPoint, atau spreadsheet dikemas dengan angka. Orang akan tergerak oleh emosi. Cara terbaik untuk menghubungkan agar orang terhubung secara secara emosional dengan maksud kita dimulai dengan “…Once upon a time …”. Inilah hakikat dari berbicara dengan bercerita karena itu kita harus tahu tekniknya.
Banyak tulisan perihal tips dari para pakar bercerita. Awalnya saya mengira bahwa bercerita itu akan baik kalau kita belajar pada para ahli stand up comedy. Namun, ada beberapa tips dari pakar lainnya yang bagus untuk kita perhatikan juga. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa diterapkan pada kesempatan berbicara apapun itu baik presentasi, pidato, kuliah, seminar, pelatihan, training dan lain sebagainya:
1. Libatkan Audiens Anda
Anda tidak sedang bercerita sendiri karena ada audiens di hadapan Anda. Libatkan mereka atau minimal dengarkan respon dari mereka.
Contoh, bila Anda berkata: “Selamat pagi bapak ibu, pagi ini saya merasa senang karena bisa hadir di hadapan Anda.” Gaya seperti ini tidak akan melibatkan Audiens Anda, coba kalau Anda berkata: ”Selamat pagi bapak ibu, siapa yang hari ini merasakan semangat berbeda daripada hari sebelumnya, boleh angkat tangan?” atau, “Siapa dari bapak ibu yang tahu? Siapa yang pernah?… Siapa yang pernah mengalami …?” maka audiens Anda akan merasa terlibat dan diajak berdialog.
Beri kesempatan Audiens untuk terlibat. Tidak perlu terburu-buru melanjutkan cerita. Kita bisa diam sejenak untuk sekedar memberi waktu pada audiens menyelesaikan tawanya atau sekedar memberikan respon singkat. Balaslah respon tersebut sebagai tanda bahwa Anda juga mendengarkan mereka.
2. Detailkan Visualisasi, Suara dan Gerakan dalam Cerita Anda
Suatu kesalahan dalam bercerita bila Anda tidak melibatkan indera audiens dalam cerita Anda. Buatlah cerita Anda itu cukup detail sehingga audiens bisa membayangkannya, seakan-akan turut mendengarnya dan merasakan apa yang Anda ceritakan.
Contoh, alih-alih bilang,”Saya punya cerita saat saya sedang duduk sambil minum kopi.” Kita bisa ganti dan detailkan dengan,”Coba Anda bayangkan saat Anda sedang duduk di bangku kayu yang sudah tua tetapi tetap kokoh karena kayunya kayu jati asli. Anda duduk seorang diri dengan hanya ditemani secangkir kopi yang baru saja Anda seduh, aroma kopinya begitu harum dihidung Anda membuat semangat Anda kembali bergairah. Disamping itu Anda juga mendengar kicauan merdu burung begitu membuat suasana hati dan pikiran Anda menjadi sangat tenang…..”
Terlihat bedakan? Yang mana yang akan membuat Anda merasa mengalami langsung cerita itu? Pasti semua setuju di detail saat Anda melihat kursi kayu, saat Anda menghirup aroma kopi dan saat Anda mendengar kicauan burung. Lakukan detail untuk membawa Audiens terus mengikuti cerita Anda karena mereka ada dalam cerita Anda.
3. Detailkan Karakter, Lakukan Analogi dan Perbandingan
Semua audiens menyukai drama. Drama selalu memunculkan tokoh dengan karakter tertentu. Bila Anda harus bercerita dengan menampilkan tokoh maka detailkan karakter tokoh Anda. Cara mendetailkan karakter bisa Anda lakukan lewat postur, mimik, suara, gerakan tubuh dan lain sebagainya. Usaha ini ditujukan agar audiens Anda tahu dan bisa membayangkan karakter dari tokoh Anda dalam pikiran mereka.
Anda juga bisa memberikan analogi dan perbandingan perihal karakter tokoh Anda. Ini biasa dilakukan oleh para stand up comedy dalam memberikan detail karakter tokoh yang mereka bicarakan kepada audiens. Mereka bisa meniru mimik wajah, mengubah suara menjadi anak kecil, orang tua, kakek-kakek, perempuan dengan intonasi disesuaikan keadaan. Bila sedang gembira, sedih, galau, gembira semua bisa kita lihat bedanya. Mereka bisa menggambarkan bentuk wajah para karakter satu dengan lainnya lewat perbandingan bentuk wajah, watak dan sikap tubuh.
Analogi dan perbandingan tetap bisa Anda lakukan meskipun tidak ada tokoh dalam cerita Anda. Ini sangat bagus dilakukan bila Anda sedang memberikan presentasi dengan data, angka dan grafik karena angka dan grafik belum memiliki arti bila belum dihubungkan dengan contoh kehidupan sehari-hari.
Analogi dan perbandingan juga baik untuk bercerita saat presentasi produk karena pada hakekatnya Anda tidak sedang menjual produk, tetapi menjual manfaat, kegunaan dan pengalaman. Analogi dan perbandingan juga bisa Anda gunakan saat menyampaikan teori ilmu di suatu seminar, pelatihan atau dihadapan mahasiswa Anda karena analogi dan perbandingan akan memudahkan audiens mencerna ilmu baru dengan mudah.
Contoh detail perihal bagaimana bercerita dengan angka dan grafik kita bisa lihat dari cara mendiang Steve Jobs saat memberikan presentasi angka dan grafik yang pernah kita bahas disini. Contoh bagaimana menyampaikan produk bisa kita lihat juga dari cara mendiang Steve Jobs memberikan presentasi lengkap di tulisan lalu saat dia menyampaikan bagaimana arti tipis produk laptopnya dihadapan audiens disini.
4. Tinggalkan Pesan
Audiens akan selalu menduga adegan apa selanjutnya dari cerita Anda, bagaimana kelanjutan dengan karakter Anda dan bagaimana akhir dari cerita yang akan menimpanya. Audiens juga akan selalu mengingat cerita Anda kalau pesan diakhir cerita begitu mengena di hatinya.
Desainlah cerita yang akan membawa pesan khusus untuk audiens Anda, pentingnya kejujuran, usaha keras, kegigihan hidup, kemauan berprestasi, kesuksesan pada akhirnya, manfaat produk bagi hidup dan lain sebagainya dalam cerita Anda.
Sampaikanlah satu kalimat atau kutipan tertentu yang tidak harus panjang, tetapi sangat mudah diingat dan kena di memori mereka. Inilah inti dari cerita Anda.
5. Banyak Latihan
Semua harus setuju terhadap tips terakhir ini. Cerita Anda bagaimanapun juga akan tidak berarti bila tidak bisa disampaikan dengan baik dan natural. Banyak latihan dan diulang-ulang menjadi kunci kesuksesan menyampaikan pesan lewat bercerita.
Namun, tidak selalu bebicara didepan umum itu harus dilakukan dengan teknik bercerita. Apalagi kalau tidak tahu tekniknya. Yang ada adalah audiens merasa jenuh dan berkata apa si yang mau disampaikan? Kok dari tadi hanya cerita saja tanpa jelas karakter dan hubunganya dengan tema acara.
Itulah kenapa berbicara di depan umum lewat bercerita menurut para pakar dikatakan layaknya seperti seorang chef. Anda harus bisa menyusun dan mengatur cerita sesuai dengan tujuan Anda berbicara. Seorang karyawan marketing yang melakukan presentasi produk baru di depan calon pelanggan pasti berbeda cara berceritanya dari seorang dosen yang sedang menyampaikan ilmu manajemen dihadapan para mahasiswa.
Banyak bercerita malah akan menghilangkan tujuan bicara sang dosen yakni menyampaikan teori ilmu manajemen. Sebaliknya, banyak menyampaikan teori malah akan membuat calon pelanggan si karyawan marketing menjadi bosan dan mengurungkan niatnya untuk membeli.
Tidak mungkin kita pakai cara bercerita yang sama di semua kesempatan. Yang terutama adalah bahwa setiap kita punya cerita untuk disampaikan. Tinggal bagaimana caranya untuk bisa menyampaikannya kepada orang lain dengan baik dan tepat.
Alhamdulillah, saya dapat tips lagi. Minimal bisa saya latih buat belajar mendongeng buat anak. Semoga ini juga bisa bermanfaat buat sahabat semua. Silahkan bila ingin menambahkan tips lainnya. Silahkan juga bila berkenan untuk membagikannya. Semoga kita semua bisa jadi pembicara yang baik.
Siapapun akan memberikan perhatian pada cerita. Itulah kenapa buku cerita, dongeng, film, drama, bahkan sinetron bisa menarik perhatian karena kita semua menyukai cerita. Kita bisa duduk diam untuk membaca buku cerita berjam-jam atau duduk diam tanpa mau diganggu dan terganggu hanya karena sedang menyaksikan sinetron kesayangan kita sedang tayang di tv. Itu semua demi cerita yang bisa membawa kita berada dalam negeri khayalan masing-masing.
Tujuan dari bercerita adalah untuk memudahkan penyampaian pesan dan permintaan melakukan aksi. Seperti Peter Guber bilang, ”Orang tidak akan beraksi hanya karena melihat data, slide PowerPoint, atau spreadsheet dikemas dengan angka. Orang akan tergerak oleh emosi. Cara terbaik untuk menghubungkan agar orang terhubung secara secara emosional dengan maksud kita dimulai dengan “…Once upon a time …”. Inilah hakikat dari berbicara dengan bercerita karena itu kita harus tahu tekniknya.
Banyak tulisan perihal tips dari para pakar bercerita. Awalnya saya mengira bahwa bercerita itu akan baik kalau kita belajar pada para ahli stand up comedy. Namun, ada beberapa tips dari pakar lainnya yang bagus untuk kita perhatikan juga. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa diterapkan pada kesempatan berbicara apapun itu baik presentasi, pidato, kuliah, seminar, pelatihan, training dan lain sebagainya:
1. Libatkan Audiens Anda
Anda tidak sedang bercerita sendiri karena ada audiens di hadapan Anda. Libatkan mereka atau minimal dengarkan respon dari mereka.
Contoh, bila Anda berkata: “Selamat pagi bapak ibu, pagi ini saya merasa senang karena bisa hadir di hadapan Anda.” Gaya seperti ini tidak akan melibatkan Audiens Anda, coba kalau Anda berkata: ”Selamat pagi bapak ibu, siapa yang hari ini merasakan semangat berbeda daripada hari sebelumnya, boleh angkat tangan?” atau, “Siapa dari bapak ibu yang tahu? Siapa yang pernah?… Siapa yang pernah mengalami …?” maka audiens Anda akan merasa terlibat dan diajak berdialog.
Beri kesempatan Audiens untuk terlibat. Tidak perlu terburu-buru melanjutkan cerita. Kita bisa diam sejenak untuk sekedar memberi waktu pada audiens menyelesaikan tawanya atau sekedar memberikan respon singkat. Balaslah respon tersebut sebagai tanda bahwa Anda juga mendengarkan mereka.
2. Detailkan Visualisasi, Suara dan Gerakan dalam Cerita Anda
Suatu kesalahan dalam bercerita bila Anda tidak melibatkan indera audiens dalam cerita Anda. Buatlah cerita Anda itu cukup detail sehingga audiens bisa membayangkannya, seakan-akan turut mendengarnya dan merasakan apa yang Anda ceritakan.
Contoh, alih-alih bilang,”Saya punya cerita saat saya sedang duduk sambil minum kopi.” Kita bisa ganti dan detailkan dengan,”Coba Anda bayangkan saat Anda sedang duduk di bangku kayu yang sudah tua tetapi tetap kokoh karena kayunya kayu jati asli. Anda duduk seorang diri dengan hanya ditemani secangkir kopi yang baru saja Anda seduh, aroma kopinya begitu harum dihidung Anda membuat semangat Anda kembali bergairah. Disamping itu Anda juga mendengar kicauan merdu burung begitu membuat suasana hati dan pikiran Anda menjadi sangat tenang…..”
Terlihat bedakan? Yang mana yang akan membuat Anda merasa mengalami langsung cerita itu? Pasti semua setuju di detail saat Anda melihat kursi kayu, saat Anda menghirup aroma kopi dan saat Anda mendengar kicauan burung. Lakukan detail untuk membawa Audiens terus mengikuti cerita Anda karena mereka ada dalam cerita Anda.
3. Detailkan Karakter, Lakukan Analogi dan Perbandingan
Semua audiens menyukai drama. Drama selalu memunculkan tokoh dengan karakter tertentu. Bila Anda harus bercerita dengan menampilkan tokoh maka detailkan karakter tokoh Anda. Cara mendetailkan karakter bisa Anda lakukan lewat postur, mimik, suara, gerakan tubuh dan lain sebagainya. Usaha ini ditujukan agar audiens Anda tahu dan bisa membayangkan karakter dari tokoh Anda dalam pikiran mereka.
Anda juga bisa memberikan analogi dan perbandingan perihal karakter tokoh Anda. Ini biasa dilakukan oleh para stand up comedy dalam memberikan detail karakter tokoh yang mereka bicarakan kepada audiens. Mereka bisa meniru mimik wajah, mengubah suara menjadi anak kecil, orang tua, kakek-kakek, perempuan dengan intonasi disesuaikan keadaan. Bila sedang gembira, sedih, galau, gembira semua bisa kita lihat bedanya. Mereka bisa menggambarkan bentuk wajah para karakter satu dengan lainnya lewat perbandingan bentuk wajah, watak dan sikap tubuh.
Analogi dan perbandingan tetap bisa Anda lakukan meskipun tidak ada tokoh dalam cerita Anda. Ini sangat bagus dilakukan bila Anda sedang memberikan presentasi dengan data, angka dan grafik karena angka dan grafik belum memiliki arti bila belum dihubungkan dengan contoh kehidupan sehari-hari.
Analogi dan perbandingan juga baik untuk bercerita saat presentasi produk karena pada hakekatnya Anda tidak sedang menjual produk, tetapi menjual manfaat, kegunaan dan pengalaman. Analogi dan perbandingan juga bisa Anda gunakan saat menyampaikan teori ilmu di suatu seminar, pelatihan atau dihadapan mahasiswa Anda karena analogi dan perbandingan akan memudahkan audiens mencerna ilmu baru dengan mudah.
Contoh detail perihal bagaimana bercerita dengan angka dan grafik kita bisa lihat dari cara mendiang Steve Jobs saat memberikan presentasi angka dan grafik yang pernah kita bahas disini. Contoh bagaimana menyampaikan produk bisa kita lihat juga dari cara mendiang Steve Jobs memberikan presentasi lengkap di tulisan lalu saat dia menyampaikan bagaimana arti tipis produk laptopnya dihadapan audiens disini.
4. Tinggalkan Pesan
Audiens akan selalu menduga adegan apa selanjutnya dari cerita Anda, bagaimana kelanjutan dengan karakter Anda dan bagaimana akhir dari cerita yang akan menimpanya. Audiens juga akan selalu mengingat cerita Anda kalau pesan diakhir cerita begitu mengena di hatinya.
Desainlah cerita yang akan membawa pesan khusus untuk audiens Anda, pentingnya kejujuran, usaha keras, kegigihan hidup, kemauan berprestasi, kesuksesan pada akhirnya, manfaat produk bagi hidup dan lain sebagainya dalam cerita Anda.
Sampaikanlah satu kalimat atau kutipan tertentu yang tidak harus panjang, tetapi sangat mudah diingat dan kena di memori mereka. Inilah inti dari cerita Anda.
5. Banyak Latihan
Semua harus setuju terhadap tips terakhir ini. Cerita Anda bagaimanapun juga akan tidak berarti bila tidak bisa disampaikan dengan baik dan natural. Banyak latihan dan diulang-ulang menjadi kunci kesuksesan menyampaikan pesan lewat bercerita.
Namun, tidak selalu bebicara didepan umum itu harus dilakukan dengan teknik bercerita. Apalagi kalau tidak tahu tekniknya. Yang ada adalah audiens merasa jenuh dan berkata apa si yang mau disampaikan? Kok dari tadi hanya cerita saja tanpa jelas karakter dan hubunganya dengan tema acara.
Itulah kenapa berbicara di depan umum lewat bercerita menurut para pakar dikatakan layaknya seperti seorang chef. Anda harus bisa menyusun dan mengatur cerita sesuai dengan tujuan Anda berbicara. Seorang karyawan marketing yang melakukan presentasi produk baru di depan calon pelanggan pasti berbeda cara berceritanya dari seorang dosen yang sedang menyampaikan ilmu manajemen dihadapan para mahasiswa.
Banyak bercerita malah akan menghilangkan tujuan bicara sang dosen yakni menyampaikan teori ilmu manajemen. Sebaliknya, banyak menyampaikan teori malah akan membuat calon pelanggan si karyawan marketing menjadi bosan dan mengurungkan niatnya untuk membeli.
Tidak mungkin kita pakai cara bercerita yang sama di semua kesempatan. Yang terutama adalah bahwa setiap kita punya cerita untuk disampaikan. Tinggal bagaimana caranya untuk bisa menyampaikannya kepada orang lain dengan baik dan tepat.
Alhamdulillah, saya dapat tips lagi. Minimal bisa saya latih buat belajar mendongeng buat anak. Semoga ini juga bisa bermanfaat buat sahabat semua. Silahkan bila ingin menambahkan tips lainnya. Silahkan juga bila berkenan untuk membagikannya. Semoga kita semua bisa jadi pembicara yang baik.
Baca Juga:
Sumber: http://dedenhendrayana.com/2013/09/16/teknik-bercerita-ala-pembicara-dunia/
RSS Feed
Twitter
8:30 PM
putra
Posted in
0 comments:
Post a Comment