
Foto: Djokopekik. ©2013 Okesharezone
Reporter: Benny Wijaya
okesharezone - Bertemu Djokopekik, Pelukis 1 Miliar Bekas Tahanan Orde Baru | Idealis, nyentrik dan ceplas ceplos adalah kekhasan yang langsung ditangkap saat bertemu dengan pelukis Djokopekik. Dia adalah salah satu seniman besar Indonesia yang berkarya sejak tahun 1960-an. Lukisan Djokopekik "Indonesia 1998 Berburu Celeng" laku senilai Rp 1 Miliar.
Sejak lepas dari tahanan Orde Baru di Lapas Wirogunan, Djokopekik tinggal di Yogyakarta. Dengan pakaian serba hitam plus janggut putih yang menjuntai dan rambut dikepang, dia hadir di Galeri Nasional, Jakarta. Karya-karya idealis Djokopekik bisa dinikmati di Galeri Nasional hingga tanggal 17 Oktober nanti.
Ada 25 lukisan dan 3 karya 3 dimensi yang dipamerkan. Terdiri dari karya lama dan baru, yang dipinjam dari beberapa kolektor di Surabaya, Jakarta, dan Singapura. Rinciannya satu dibuat pada tahun 1964, empat dibuat pada tahun 1980,tiga dibuat pada tahun 1900, sisanya tahun 2000-an.
Djokopekik tak mau bercerita banyak soal lukisannya. Menurut dia, lukisan tidak bisa diceritakan.
"Pelukis itu tidak seperti dalang wayang kulit kan tidak perlu menjelaskan satu persatu. Itu sudah merupakan komunikasi ke publik," Djokopekik sambil mengelus-elus janggut putihnya kepada merdeka.com di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (12/10).
Dalam perjalanannya Djoko kerap disebut sebagai pelukis berhaluan kiri. Hal ini lantaran keiikutsertaannya dalam Sanggar Bumi Tarum yang dekat dengan Lekra. Di zaman 1965 tersebut, sanggar ini memang terkenal menghasilkan pelukis idealis yang kerap melukis realisme sosial.
Jiwa seni yang pada Djoko pun dimatikan, Djoko terpaksa mendekam selama 7 tahun di tahanan. Selepas dari bui, ideologi Djoko rupanya tak berubah. Dia tetap melukis realisme sosial di sekitarnya sebagai ekspresi umpatan dan ketidaksukaannya terhadap kondisi di Indonesia.
Pun begitu saat dia dihadapkan dengan himpitan ekonomi, sebagai pelukis dia tidak mau berbelok menjadi pelukis pesanan.
"Banyak orang yang pengen mengoleksi sampai taruh uang muka, tapi bapak enggak mau, enggak mau. Karena bapak merasa terbebani jadi utang. Ya kalau bisa menggambar sesuai, mau enggak mau harus membeli," ujar anak keempat Djoko, Nihil Pakuril.
RSS Feed
Twitter
6:33 PM
putra
Posted in
0 comments:
Post a Comment